 |
| Sumber: Yahoo Search |
Oleh: Patrick Pahala (Siswa SMAN 1 Belitang)
Pada
suatu pagi yang indah nan cerah, mentari
mulai menampakkan sinarnya menusuk masuk melalui jendela kamar tidur. Seorang
anak seakan menyapa anak yang sedang berada dipulau kapuk yang empuk nan lembut
untuk bangun dan kemudian anak ini mulai bangkit dan mulai memanjatkan ucapan
syukur kepada Sang Maha Kuasa atas hari baru yang akan dilaluinya. Anak ini
bernama Arya Kusuma, dia adalah seorang anak yang sedang menginjak masa putih
biru. Ia bersekolah di SMPN 1 Buay Madang Timur. Seperti anak pada umumnya ia
tak terlalu menghiraukan pelajaran, yang ada didalam pikirannya hanyalah game.
Tiada hari tanpa bermain Playstation.
Setiap hari hari teman-temannya selalu mengajaknya bermain Playstation. Dari kelas 1 hingga kelas 2 SMP ia selalu bermain Playstation. Namun kegiatan tersebut
benar-benar mengganggu konsentrasi belajarnya dan membuatnya menjadi anak yang
malas.
Saat
mendengar kata ulangan jantung si Arya langsung berdetak kencang dan aura
ketakutan menyelimuti dirinya. Ia bahkan
sempat takut pelajarn Bahasa Inggris dan membenci MTK. Tidak hanya itu, ia
pernah mengerjakan ulangan MTK dan tidak ada jawaban yang benar. Nilainya juga
sempat turun bahkan pernah mendapat peringkat bawah. Hingga ia pun pernah
terdepak dari kelas unggulan ketika naik kelas 3, dan di awal kelas 3 SMP ia
sempat berpikir “untuk apa belajar ? yang penting nanti bisa kerja bisa cari
makan. Mending main game aja, gak bikin pusing”
Suatu
hari Arya dan teman sebangkunya Angga,
ngobrol dikelas saat jam pelajaran “Arya, ayo entar pulang sekolah main PS yuk ?”
ajak Angga ketika jam pelajaran
“Boleh
juga tuh” jawab Arya
“Sip
dah, entar main game apa ya enaknya ?” Tanya Angga
“Main
Super Mario aja” balas Arya
“Arya
! kita kan main PS 2 ! mana ada Super Mario ! Gimana sih elu ?” Respon Angga
“Ya
udah main Mr Bean aja, kan ada gamenya di PS 2” balas Arya
“Ah
cemen lu, main Resident Evil 4 aja lebih seru” jawab Angga
“Ha,
jangan ! lu gak tau apa gimana terakhir kali gue main itu game” respon Arya
“Haduh
lu cemen sih, masa cuma gara-gara main Resident Evil lu teriak-teriak ketakutan
sampe seisi rentalan PS ngeliatin kita” balas Angga
Di
tengah pembicaraan mereka berdua datanglah seorang guru killer mendekat ke meja
mereka berdua, “Ehem, kalian ngomongin apa nak ?” Tanya Bu Mei dengan mata
melotot tajam
“Hmmm
enggak kok Bu kita ngomongin pelajaran kok” jawab Arya
“Oh
gitu ya, coba beri contoh hewan planaria !” jawab Bu Mei dengan mata semakin
melotot tajam
“Ha
? Maaf Pla....Pla apa Bu ?” jawab Arya
dengan nada bingung.
Dengan
spontan seluruh anak di kelas mentertawakan Arya.
“Diam
!!!!” Perintah Bu Mei kepada seluruh muridnya.
Dengan
serempak kelas menjadi hening kembali
“Kamu
itu jangan main-main dengan pelajaran saya, kalau mau main keluar sana” Bentak
Bu Mei dengan nada cetar membahana.
“I…Iya
Bu, maaf” jawab Arya
“Haduh
Ibu itu sudah bingung sama kamu nak , ini sudah yang kesekian kalinya saking
gak bisa dihitung seberapa sering kamu ngobrol di kelas” Oceh Bu Mei
Arya
hanya dapat terdiam hening menunduk lesu
“Pokoknya
besok Ibu panggil Orang Tua kamu ke sekolah” Ancam Bu Mei
“Ha,
jangan Bu. Saya kan sudah minta maaf” Pinta Arya dengan memelas
“Gak
bisa pokoknya Ibu panggil Orang Tua kamu besok titik” Respon Bu Mei
Arya
semakin tertunduk lesu
Keesokan
paginya setelah Arya dan kedua Orang Tuanya keluar dari kantor si Arya mendapat
nasihat, “Nak Ibu sama Ayah gak minta banyak kok nak, cukup kamu belajar yang
rajin dan bener nak sama sudahi dulu main PS ya nak kamu kan udah kelas 3 SMP
bentar lagi ujian” nasihat Ibu Arya.
Arya
hanya mengangguk dengan wajah murung
“Iya
nak Ibu kamu benar nak” Tambah Ayah Arya
“Iya
Yah, Arya minta maaf”
“Pokoknya
mulai besok uang saku kamu Ayah kurangin” Balas Ayah Arya
“Tapi
Yah….” Respon Arya dengan wajah memelas
“Gak
ada tapi-tapian” Tegas Ayah Arya
Namun
walaupun setelah diberi nasihat, Arya tetap bandel dan ia tetap pergi main PS
di rumah tetangganya. Ia menggunakan uang tabungannya. Orang Tuanya mengetahui
hal tersebut dan sempat memberikan beberapi kali teguran kepada si Arya. Namun
Arya malah semakin bandel dan malas belajar namun rajin bermain PS. Hal itu
hanya dapat membuat Orang Tuanya mengelus dada. Hingga suatu saat si Arya
dengan tidak sengaja melihat Ibunya dikamar sendirian dan sedang termenung
dengan wajah sedih dan kecewa.
“Ya
Tuhan, kapan anak ku bisa sadar ? Kapan anak ku bisa rajin belajar ? Ya Tuhan
tolong sadarkanlah anak ku akan pentingnya belajar dan tolong bimbing anak ku
ke jalan yang benar” ucap Ibu Arya sambil merenung dalam kesedihan
Sontak
saat melihat itu hati Arya menjadi gempar dan dengan spontan ia masuk ke kamar
Ibunya dan memeluk Ibunya, “Maaf Bu, Arya cuma bisa buat Ibu sedih. Arya janji
buat Ibu bahagia. Maafin Arya Bu” ucap Arya sembari meneteskan air mata
penyesalan
“Iya
nak Ibu maafin, udah gak usah nangis. Ibu Cuma minta kamu rajin belajar aja itu
saja kok nak” Respon Ibu Arya sembari menghapus air mata Arya
“Iya
Bu, Arya janji” jawab Arya dalam pelukan sang Ibu.
Sejak
saat itu Arya menjadi rajin belajar dan tidak bermain PS lagi. Nilainya di
sekolah terus mengalami peningkatan. Bahkan sejak ia sadar akan pentingnya
belajar, ia menyukai dan menikmati pelajaran yang sempat ia benci dan takutkan
dulu yaitu MTK dan Bahasa Inggris. Disaat bersamaan ia mendengar kabar jika
kakak-kakak kelasnya telah diterima di SMA-SMA ternama berbagai daerah. Hal itu
membuat semangatnya berkobar dan terpacu untuk lebih giat belajar. Ia juga
sempat bertemu dengan kakak kelasnya yang merupakan peringkat 1 umum di SMP dan
kakak kelasnya tersebut diterima di salah satu SMA berstandar Internasional dan
merupakan salah satu SMA terbaik di Bogor dan Indonesia, kakak kelasnya itu
bernama Mukhsin.
“Hey kak apa kabar ?” sapa Arya
“Alhamdullilah,
baik dek. Kamu gimana kabarnya ?” sapa balik oleh si Mukhsin
“Puji
Tuhan, baik juga kok kak. Oh iya gimana kak sekolah di Bogor sana kak ?” balas
si Arya sambil bertanya dengan penuh rasa penasaran
“Sekolah
di sana seru dek, kakak dapat banyak teman dari berbagai penjuru Indonesia.
Walaupun baru beberapa bulan sekolah di sana tapi kakak udah dapat banyak
pengalaman berharga di sana seperti di sana setiap hari harus bicara pakai
Bahasa Inggris dan tentu yang terutama di sana kakak dilatih untuk mandiri”
Jelas si Mukhsin
“Oh
gitu ya kak ? keren…” respon Arya dengan terkagum-kagum
Ia menjadi sangat terinspirasi dan termotivasi setelah mendengar cerita dari
kakak kelasnya tersebut
Sejak
saat itu juga ia menjadi sangat terinspirasi dan termotivasi untuk masuk SMA
berstandar Internasional yang ada di Bogor dan Palembang. Untuk mewujudkan hal
tersebut ia sadar jika ia harus bekerja keras dan belajar dengan lebih giat.
Oleh karena itu ia belajar lebih giat namun tak lupa ia berdoa kepada Yang Maha
Kuasa. Dan oleh sebab itu belajar menjadi salah satu hobi anak ini. Bahkan
dalam pikirannya adalah belajar, belajar dan belajar. Tiada hari tanpa belajar.
Hingga
doa usaha dan ikhtiar yang dilakukannya membuahkan hasil, Arya mendapatkan
peringkat 1 kelas dan 4 umum pada mid semester. Sungguh kegembiraan
dirasakannya. Tidak berhenti sampai di situ ia juga meraih peringkat 1 kelas
dan 2 umum pada pembagian raport semester. Kegembiraan dan rasa syukur
benar-benar dirasakannya, “Terima kasih Ya Tuhan” ucapnya usai menerima raport.
Namun
semua tak seperti yang ia harapkan. Memang Arya mendapat peringkat yang bagus akan
tetapi beberapa bulan kemudian ia mendapat kabar kalau ia tidak di terima di
SMA yang ia inginkan, “Memang tidak diterima di SMA yang kita inginkan itu
menyakitkan, namun akan lebih menyakitkan lagi jika kita tidak diterima di SMA
yang kita inginkan namun teman kita diterima” ucapnya dalam hati
Arya
mendengar kabar tersebut ketika ia sedang menghadapi UAS, dia langsung nge-down dan ia merasa benar-benar kecewa
setelah mendengar kabar ia tidak diterima di SMA yang ia idam-idamkan dan sesak
di dadany semakin mendalam setelah mendengar jika salah seorang temannya di
terima di SMA yang ia idam-idamkan tersebut, “Memang rasanya senang melihat
sahabat kita mendapat apa yang mereka inginkan namun rasanya juga sakit ketika
kita tidak mendapat apa yang kita harapkan” ucapnya dalam benaknya
Hari-hari
berlalu dan kekecewaan masih ia rasakan. Hingga Ayahnya mengajaknya bicara, “Hey
nak jangan sedih terus” ucap Ayah Arya
“Iya
Yah, Arya gak apa-apa kok” balas Arya.
“Haduh
nak, kamu gak bisa bohongin Ayah, udah jangan sedih terus. Ayah dulu juga
pernah gagal kok, memang terkadang ada hal yang tidak sesuai dengan harapan
kita tapi ingat nak KITA TERLAHIR BUKAN UNTUK MENYERAH” ucap Ayah Arya sembari
menepuk pundak anaknya
“Terlahir
bukan untuk menyerah ?” balas Arya
“Iya
nak, kita terlahir bukan untuk menyerah. Coba kamu lihat orang-orang yang
kurang beruntung di dunia ini, organ tubuh mereka ada yang tidak lengkap lalu
juga ada organ tubuh mereka yang kurang berfungsi dengan baik. Tapi mereka
tetap berusaha, mereka tetap berjuang. Nah kita yang dianugerahkan oleh Yang
Maha Kuasa dengan berbagai anugerah dan organ tubuh yang lengkap ini, masa kita
gampang menyerah ? KITA TERLAHIR BUKAN UNTUK MENYERAH nak !” jelas Ayah Arya.
“Iya
Yah” balas Arya
“Jadi
nak apapun yang terjadi jangan menyerah, jika menyerah habislah sudah” tambah
Ayah Arya
“Iya
makasih Yah atas nasehatnya” Jawab Arya sembari tersenyum
Setelah
mendapat nasehat dari sang Ayah, Arya kembali bersemangat dan ia menjadi lebih
giat belajar. Bagaikan butuh hujan dan mentari untuk melihat pelangi.
Kegagalannya diterima di SMA yang ia inginkan terbalaskan. Arya mendapat nilau
UN terbaik se OKU Timur. Dan pada akhirnya ia melanjutikan sekolahnya di SMA
Negeri1 Belitang. Walaupun ia tidak bersekolah di SMA yang ia inginkan namun ia
tetap bersyukur dan tetap berusaha karena ia sadar jika ia TERLAHIR BUKAN UNTUK
MENYERAH.