Sabtu, 31 Januari 2015

Terlahir Bukan untuk Menyerah

Sumber: Yahoo Search


Oleh: Patrick Pahala (Siswa SMAN 1 Belitang)

Pada suatu  pagi yang indah nan cerah, mentari mulai menampakkan sinarnya menusuk masuk melalui jendela kamar tidur. Seorang anak seakan menyapa anak yang sedang berada dipulau kapuk yang empuk nan lembut untuk bangun dan kemudian anak ini mulai bangkit dan mulai memanjatkan ucapan syukur kepada Sang Maha Kuasa atas hari baru yang akan dilaluinya. Anak ini bernama Arya Kusuma, dia adalah seorang anak yang sedang menginjak masa putih biru. Ia bersekolah di SMPN 1 Buay Madang Timur. Seperti anak pada umumnya ia tak terlalu menghiraukan pelajaran, yang ada didalam pikirannya hanyalah game. Tiada hari tanpa bermain Playstation. Setiap hari hari teman-temannya selalu mengajaknya bermain Playstation. Dari kelas 1 hingga kelas 2 SMP ia selalu bermain Playstation. Namun kegiatan tersebut benar-benar mengganggu konsentrasi belajarnya dan membuatnya menjadi anak yang malas.
Saat mendengar kata ulangan jantung si Arya langsung berdetak kencang dan aura ketakutan  menyelimuti dirinya. Ia bahkan sempat takut pelajarn Bahasa Inggris dan membenci MTK. Tidak hanya itu, ia pernah mengerjakan ulangan MTK dan tidak ada jawaban yang benar. Nilainya juga sempat turun bahkan pernah mendapat peringkat bawah. Hingga ia pun pernah terdepak dari kelas unggulan ketika naik kelas 3, dan di awal kelas 3 SMP ia sempat berpikir “untuk apa belajar ? yang penting nanti bisa kerja bisa cari makan.  Mending main game aja, gak bikin pusing”
Suatu hari Arya dan  teman sebangkunya Angga, ngobrol dikelas saat jam pelajaran “Arya, ayo entar pulang sekolah main PS yuk ?” ajak Angga ketika jam pelajaran
“Boleh juga tuh” jawab Arya
“Sip dah, entar main game apa ya enaknya ?” Tanya Angga
“Main Super Mario aja” balas Arya
“Arya ! kita kan main PS 2 ! mana ada Super Mario ! Gimana sih elu ?” Respon Angga
“Ya udah main Mr Bean aja, kan ada gamenya di PS 2” balas Arya
“Ah cemen lu, main Resident Evil 4 aja lebih seru” jawab Angga
“Ha, jangan ! lu gak tau apa gimana terakhir kali gue main itu game” respon Arya
“Haduh lu cemen sih, masa cuma gara-gara main Resident Evil lu teriak-teriak ketakutan sampe seisi rentalan PS ngeliatin kita” balas Angga
Di tengah pembicaraan mereka berdua datanglah seorang guru killer mendekat ke meja mereka berdua, “Ehem, kalian ngomongin apa nak ?” Tanya Bu Mei dengan mata melotot tajam
“Hmmm enggak kok Bu kita ngomongin pelajaran kok” jawab Arya
“Oh gitu ya, coba beri contoh hewan planaria !” jawab Bu Mei dengan mata semakin melotot tajam
“Ha ? Maaf  Pla....Pla apa Bu ?” jawab Arya dengan nada bingung.
Dengan spontan seluruh anak di kelas mentertawakan Arya.
“Diam !!!!” Perintah Bu Mei kepada seluruh muridnya.
Dengan serempak kelas menjadi hening kembali
“Kamu itu jangan main-main dengan pelajaran saya, kalau mau main keluar sana” Bentak Bu Mei dengan nada cetar membahana.
“I…Iya Bu, maaf” jawab Arya
“Haduh Ibu itu sudah bingung sama kamu nak , ini sudah yang kesekian kalinya saking gak bisa dihitung seberapa sering kamu ngobrol di kelas” Oceh Bu Mei
Arya hanya dapat terdiam hening menunduk lesu
“Pokoknya besok Ibu panggil Orang Tua kamu ke sekolah” Ancam Bu Mei
“Ha, jangan Bu. Saya kan sudah minta maaf” Pinta Arya dengan memelas
“Gak bisa pokoknya Ibu panggil Orang Tua kamu besok titik” Respon Bu Mei
Arya semakin tertunduk lesu
Keesokan paginya setelah Arya dan kedua Orang Tuanya keluar dari kantor si Arya mendapat nasihat, “Nak Ibu sama Ayah gak minta banyak kok nak, cukup kamu belajar yang rajin dan bener nak sama sudahi dulu main PS ya nak kamu kan udah kelas 3 SMP bentar lagi ujian” nasihat Ibu Arya.
Arya hanya mengangguk dengan wajah murung
“Iya nak Ibu kamu benar nak” Tambah Ayah Arya
“Iya Yah, Arya minta maaf”
“Pokoknya mulai besok uang saku kamu Ayah kurangin” Balas Ayah Arya
“Tapi Yah….” Respon Arya dengan wajah memelas
“Gak ada tapi-tapian” Tegas Ayah Arya
Namun walaupun setelah diberi nasihat, Arya tetap bandel dan ia tetap pergi main PS di rumah tetangganya. Ia menggunakan uang tabungannya. Orang Tuanya mengetahui hal tersebut dan sempat memberikan beberapi kali teguran kepada si Arya. Namun Arya malah semakin bandel dan malas belajar namun rajin bermain PS. Hal itu hanya dapat membuat Orang Tuanya mengelus dada. Hingga suatu saat si Arya dengan tidak sengaja melihat Ibunya dikamar sendirian dan sedang termenung dengan wajah sedih dan kecewa.
“Ya Tuhan, kapan anak ku bisa sadar ? Kapan anak ku bisa rajin belajar ? Ya Tuhan tolong sadarkanlah anak ku akan pentingnya belajar dan tolong bimbing anak ku ke jalan yang benar” ucap Ibu Arya sambil merenung dalam kesedihan
Sontak saat melihat itu hati Arya menjadi gempar dan dengan spontan ia masuk ke kamar Ibunya dan memeluk Ibunya, “Maaf Bu, Arya cuma bisa buat Ibu sedih. Arya janji buat Ibu bahagia. Maafin Arya Bu” ucap Arya sembari meneteskan air mata penyesalan
“Iya nak Ibu maafin, udah gak usah nangis. Ibu Cuma minta kamu rajin belajar aja itu saja kok nak” Respon Ibu Arya sembari menghapus air mata Arya
“Iya Bu, Arya janji” jawab Arya dalam pelukan sang Ibu.
Sejak saat itu Arya menjadi rajin belajar dan tidak bermain PS lagi. Nilainya di sekolah terus mengalami peningkatan. Bahkan sejak ia sadar akan pentingnya belajar, ia menyukai dan menikmati pelajaran yang sempat ia benci dan takutkan dulu yaitu MTK dan Bahasa Inggris. Disaat bersamaan ia mendengar kabar jika kakak-kakak kelasnya telah diterima di SMA-SMA ternama berbagai daerah. Hal itu membuat semangatnya berkobar dan terpacu untuk lebih giat belajar. Ia juga sempat bertemu dengan kakak kelasnya yang merupakan peringkat 1 umum di SMP dan kakak kelasnya tersebut diterima di salah satu SMA berstandar Internasional dan merupakan salah satu SMA terbaik di Bogor dan Indonesia, kakak kelasnya itu bernama Mukhsin.
 “Hey kak apa kabar ?” sapa Arya
“Alhamdullilah, baik dek. Kamu gimana kabarnya ?” sapa balik oleh si Mukhsin
“Puji Tuhan, baik juga kok kak. Oh iya gimana kak sekolah di Bogor sana kak ?” balas si Arya sambil bertanya dengan penuh rasa penasaran
“Sekolah di sana seru dek, kakak dapat banyak teman dari berbagai penjuru Indonesia. Walaupun baru beberapa bulan sekolah di sana tapi kakak udah dapat banyak pengalaman berharga di sana seperti di sana setiap hari harus bicara pakai Bahasa Inggris dan tentu yang terutama di sana kakak dilatih untuk mandiri” Jelas si Mukhsin
“Oh gitu ya kak ? keren…” respon Arya dengan terkagum-kagum
Ia menjadi sangat terinspirasi dan termotivasi setelah mendengar cerita dari kakak kelasnya tersebut
Sejak saat itu juga ia menjadi sangat terinspirasi dan termotivasi untuk masuk SMA berstandar Internasional yang ada di Bogor dan Palembang. Untuk mewujudkan hal tersebut ia sadar jika ia harus bekerja keras dan belajar dengan lebih giat. Oleh karena itu ia belajar lebih giat namun tak lupa ia berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Dan oleh sebab itu belajar menjadi salah satu hobi anak ini. Bahkan dalam pikirannya adalah belajar, belajar dan belajar. Tiada hari tanpa belajar.
Hingga doa usaha dan ikhtiar yang dilakukannya membuahkan hasil, Arya mendapatkan peringkat 1 kelas dan 4 umum pada mid semester. Sungguh kegembiraan dirasakannya. Tidak berhenti sampai di situ ia juga meraih peringkat 1 kelas dan 2 umum pada pembagian raport semester. Kegembiraan dan rasa syukur benar-benar dirasakannya, “Terima kasih Ya Tuhan” ucapnya usai menerima raport.
Namun semua tak seperti yang ia harapkan. Memang Arya mendapat peringkat yang bagus akan tetapi beberapa bulan kemudian ia mendapat kabar kalau ia tidak di terima di SMA yang ia inginkan, “Memang tidak diterima di SMA yang kita inginkan itu menyakitkan, namun akan lebih menyakitkan lagi jika kita tidak diterima di SMA yang kita inginkan namun teman kita diterima” ucapnya dalam hati
Arya mendengar kabar tersebut ketika ia sedang menghadapi UAS, dia langsung nge-down dan ia merasa benar-benar kecewa setelah mendengar kabar ia tidak diterima di SMA yang ia idam-idamkan dan sesak di dadany semakin mendalam setelah mendengar jika salah seorang temannya di terima di SMA yang ia idam-idamkan tersebut, “Memang rasanya senang melihat sahabat kita mendapat apa yang mereka inginkan namun rasanya juga sakit ketika kita tidak mendapat apa yang kita harapkan” ucapnya dalam benaknya
Hari-hari berlalu dan kekecewaan masih ia rasakan. Hingga Ayahnya mengajaknya bicara, “Hey nak jangan sedih terus” ucap Ayah Arya
“Iya Yah, Arya gak apa-apa kok” balas Arya.
“Haduh nak, kamu gak bisa bohongin Ayah, udah jangan sedih terus. Ayah dulu juga pernah gagal kok, memang terkadang ada hal yang tidak sesuai dengan harapan kita tapi ingat nak KITA TERLAHIR BUKAN UNTUK MENYERAH” ucap Ayah Arya sembari menepuk pundak anaknya
“Terlahir bukan untuk menyerah ?” balas Arya
“Iya nak, kita terlahir bukan untuk menyerah. Coba kamu lihat orang-orang yang kurang beruntung di dunia ini, organ tubuh mereka ada yang tidak lengkap lalu juga ada organ tubuh mereka yang kurang berfungsi dengan baik. Tapi mereka tetap berusaha, mereka tetap berjuang. Nah kita yang dianugerahkan oleh Yang Maha Kuasa dengan berbagai anugerah dan organ tubuh yang lengkap ini, masa kita gampang menyerah ? KITA TERLAHIR BUKAN UNTUK MENYERAH nak !” jelas Ayah Arya.
“Iya Yah” balas Arya
“Jadi nak apapun yang terjadi jangan menyerah, jika menyerah habislah sudah” tambah Ayah Arya
“Iya makasih Yah atas nasehatnya” Jawab Arya sembari tersenyum
Setelah mendapat nasehat dari sang Ayah, Arya kembali bersemangat dan ia menjadi lebih giat belajar. Bagaikan butuh hujan dan mentari untuk melihat pelangi. Kegagalannya diterima di SMA yang ia inginkan terbalaskan. Arya mendapat nilau UN terbaik se OKU Timur. Dan pada akhirnya ia melanjutikan sekolahnya di SMA Negeri1 Belitang. Walaupun ia tidak bersekolah di SMA yang ia inginkan namun ia tetap bersyukur dan tetap berusaha karena ia sadar jika ia TERLAHIR BUKAN UNTUK MENYERAH.

2 komentar: